Sakit kepala di bagian belakanglah yang pertama kali aku rasakan ketika baru bangun pagi agak siang. Barangsur-angsur menghidupkan setiap pikiran yang berangkat dari tidur yang malamnya sudah tertunda. Ada hal yang tidak pernah bisa aku lepaskan ketika aku telah terlena oleh obrolan topik demi topik yang dibicarakan dengan mantan dosenku (tapi tetap guru) dan dosen yang biasa disebut Pak Doktor. Diskusi kami bagai sebuah seminar multi diciplin yang alot tanpa ada panitia dan peserta, yang ada adalah pemateri dan penanggap. Kadang kadang, istri pak doktor menyuguhkan teh, "ma kasih buk", itulah ungkapan yang sering terlontar dari ku untuk istri pak doktor. Beberapa anak pak doktor yang lalu lalang di depan kami merupakan warna semaraknya diskusi kami di setiap kesempatan. Lintas topik, itu lah setiap seminar yang kami lakukan, sambil anak-anaknya pak doktor yang sering melintas didepan kami. ini menyenangkan!
Tapi tadi malam, aku memasuki pagar rumah pak doktor sudah agak terlambat, karena sebelumnya bertemu dengan kolega di kampus yang merupakan seorang sastrawan penulis. Lepas pula beberapa bahasan kami diskusikan di pinggir jalan di depan warnat jalan ke kampus tempat kita bergelumun. Sang sastrawan itu ternyata sedang menunggu antrian masuk warnet yang penuh. Begitu lah jalan menuju kampusku, penuh ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi kasak kusuk, ada yang membeli sambal, ada yang sedang berjalan tergesa, ada yang jalan santai dengan teman wanita atau pria, ada yang sekedar mengobrol di pinggir jalan sambil tegak. ada pula yang bersandar di pagar mengota berempat atau bertiga yang satunya di atas motor. Pokoknya ramai lah. Oh ya, warnet! begitu ramai dikunjungi mahasiswa mahasiswi atau pelajar setempat dan juga pareman simpang. Tak tahu binatang itu apa menariknya. Bahkan lebih menarik dari seminar dan kuliah. Tak tau dimana menariknya, tapi begitulah adanya, menjadi skedul harian para manusia modern.
Rupanya, pak doktor sedang menonton tipi di rumahnya. Lain pula nampaknya nikmat nonton tipi. Sampai tiga kali aku menyapa baru pak doktror keluar dan bersama duduk di sofa maron tempat seminar kami dihelatkan. Seperti biasa, kami mulai dengan menanyakan kabar masing masing sebagai pembuka seminar. Seputar cerita yang sempat terpotong lewat sms atau telpon, disambung lagi. Seperti air yang ditumpahkan ke lantai, pembicaraan semakin melebar sampai susah untuk dihentikan. Sepeti air mengalir!. jam 11 malam, jam 12.10... sampai akhirnya jam 12.40 yang biasanya berakhir di pagar. susah sekali melepaskan candu itu. Ntah apa yang melekatkan. Biasanya pembicaraan meliputi mata kuliah karena aku asisten pak doktor, berbarbagi pengalaman, diskusi linguistics, sastra, agama, sosial, kommunikasi, atau curhat. Sistem dan Aplikasi. Gaya hidup, sejarah dan tasauf. Rupanya banyak sekali. Tidak ada spesifik tema yang di bicarakan, tetapi setiap kalinya berseminar di rumah pak doktor, aku merasa sepeti doktor pula. Karena banyak ilmu yang diturunkan tanpa sadar.
Disamping itu kami juga sering bertukar buku, lalu diskusi tentang pemahaman. perspektif dan asumsi, kesimpulannya diformulasikan sehingga tinggal menjadi bahan diskusi pertemuan mendatang. Pemantapan.
Selalu kantuk yang mengakhiri semuanya.
1 comments:
telah lahir another andrea hirata... Greate man... but, menurut yoza itu masih prolog....... Lanjutin dong pel ceritanya......
Post a Comment