Tuesday, December 1, 2009

OBSESI


Semalam kita masih berbicara tentang indahnya masa depan dalam genggaman obsesi. Itulah yang penting untuk kita jelaskan terlebih dahulu, obsesi. "Apa yang telah tuan maksud?", pertanyaan itu menyentuh dinding pertama dalam kisah yang sudah kita bangun. "Obsesi itu, hm.... oke.!, begini saja!" axis tidak bisa berdiam dalam tulang punggungnya, sehingga darah bergegas ke bagian kepala. "Apa tuan mau minum dulu?" perempuan itu bertanya hendak berdiri mengikuti maksudnya. "Terima Kasih.." jawabnya memelan.
Begini saja, obsesi itu adalah wujud keinginan yang begitu besar sehingga alam mimpi butuh ikut serta untuk menampung, karna terlalu besarnya. Aku sedang berobsesi, tidak juga sama dengan aku sedang bermimpi. Eh.. tapi bisa saja kadang dibilang begitu. "Ah... Kepalaku jadi sakit" dia meraba bagian keningnya, mengusap hingga jari-jarinya bertumpuk di tengah kening.
"Minum lah dulu tuan" perempuan menggeser posisi duduk hingga senyumnya menyempurnakan penampilan perempuan elok.
"Tapi tuan, kenapa kita bisa terobsesi?" bibirnya kemudian mengeluarkan suara.
"Ini merupakan kajian yang mendalam, dinda!" apa yang dia pahami kemudian tergambar dari kerut keningnya.
"Lalu?" perempuan memajukan badannya kedepan, kemudian matanya bersinar dan bertanya-tanya. Laki-laki malah menyandarkan punggungnya, kadang-kadang menatap langit-langit.
"Sudahlah dinda, aku sajalah yang menjadi obsesimu, dan kau lah obsesi ku"
"Obsesi, tuan?" perempuan merapatkan kakinya.
Tidak perlu lagi aku jelaskan apa itu obsesi, batasan hingga fungsinya, tapi kau telah merasakannya di hati mu. Engkaulah obsesiku, aku yang merasakannya. Ku tahu hati mu tak bisu.
"Tuan, apakah obsesi itu Cinta yang bergerak maju?" perempuan memegang tangan sang Tuan.

0 comments: