Tiga puluh - dan tentang apa yang sudah kau jalani dalam setiap detik yang tak berbalik, semuanya seperti apa yang juga kalian perhitungkan selama ini. Membosankan bila dijalani dengan cerita-cerita yang selalu ingin kau lupakan. Tentang masa kecil yang tidak begitu bahagia, menurut ukuran waktu itu. Berjalan-jalan di subuh ke pagi, kau dilepas berlarian di jalan aspal membentang lalu lalang orang-orang bersekolah dan bekerja. Sepatu biru mungil berhias putih-putih serta bunyi-bunyian, seperti kau bawa terbang bersama keinginan orang tua mu yang begitu tinggi kepada masa depan. Indah bahagia ibu mu mengikuti berlari sepadan gegasmu, dari belakang. Bapak mu tersenyum melihat istirinya bergemercik dan anaknya meniti waktu pertumbuhan. Betapa pun indahnya potongan kisah itu, kau tidak bisa merasakannya. Kau adalah mainan orang tua mu sebagai hasil permainan mereka. Setumpuk mainan berwarna pun mengitari ruang-ruang dan pangkuan-pangkuan, tapi kau pun sungguh masih buta akan hijau, merah, dan biru serta kuning. Hidupmu sungguh berwarna dari pandangan sejarah yang kau tumpukan pada satu garis, tapi tidak ketika kau patok pada satu titik. Abu-abu saja. Tapi biarlah semua potongan-potongan kanak-kanak dari kisah yang masih kau ingat, menjadi kerinduan ketika kau ingin mengatakan pada mereka bahwa masa kecil mu bukan tidak begitu bahagia. Walau banyak frame yang kau potong, dan kau buang dalam kelam.Siswa baik dan suka mengacungkan tangan dari setiap kelas persegi adalah potongan besar dari masa remaja mu yang terajut panjang dalam cerita orang-orang yang mengenalmu baik walau tak satupun yang bisa menulis nama lengkap mu dengan benar. Kamu bukanlah yang terhebat dari ukuran masa itu, tapi kau hebat dari ukuran keluarga mu. Kau lah yang nomor satu walau kau tak tahu itu palsu. 1993, malam kelam untuk udara panas, petama kali menyentuh dinding-dinding remajamu dalam bejana waktu yang bercerita tentang kerinduan dan pertumbuhan. Tangis mu lah yang menjadi pendengar gejolak hati remaja yang dibalut sepi rindu. Menangis itu indah, tapi sepi tetap saja menempatkan mu dalam kesendirian, disaat masih banyak orang-orang yang ingin memeluk mu. Tatapan mereka adalah kasih sayang. Tetap saja lagit-langit menatap mu menyeka bulir yang terus menetes. Pagi kan membawa cerita baru.
Banyak kelokan dan undakan perjalanan kependewasaan masa peralihan yang kau catat dalam renungan-renungan menatap bulan. Tentang bagaimana kau membisikan ke hati mu disaat kau tidak mampu memiliki apa yang kau butuhkan, tentang bagaimana kau melepaskan perasaan yang tertahan lama dalam norma. Tentang bagaimana hebatnya kau menggubah segala bentuk kekurangan dan kelemahan menjadi hiburan yang kau panggungkan. Betapa sering malu kau letakkan dibelakang punggung disaat kau maju ke depan walau senyum mu rengkah. Pikiran mu sering-sering membingkai angan-angan yang tak pernah ada dalam kenyataan dirimu, dan kau jadikan itu sebagai pengantar tidur, kemudian berharap mimpi-mimpi mu lah yang menuntaskannya. Tapi malam tetap bercahaya dan saat pagi yang sabar, kau tetap merindukan malam-malam sebelumnya.
Buang, buang, buanglah semuanya! Hapus dan lemparkan ke dalam jurang ketidaksadaran. Buraikan tumpah dalam setiap sisi yang kosong lalu bungkus menjadi masa silam. Kuburkan saja!
Masa pelepasan keterikatan dan kebebasan menjelang dalam genggaman mu saat itu, 1998.
Begitu indah, gelak dan canda dalam darah pemuda membawa banyak bendera. Suara belia mengiangi dan suara dawai menyuluti tidur tubuh lelah sang perambah dunia. Putih, hitam, abu-abu dan merah menghiasi hati berambisi. Dunia baru yang kau warnai dengan segala potensi diri tanpa jeruji dalam sepatu biru berhias putih-putih. Penuh bunyi-bunyi. Kebebasan adalah kepemilikan angan sepenuhnya menjadi aksi tanpa ragu. Malam selau cepat menuju pagi dan siang tak pernah cukup waktu untuk menerjemahkan naluri. Selalu ada tawa dalam senang dan selalu ada henyuh dalam penyesalan walau riang adalah pedang dalam genggaman. Lalahkan ke seluruh penjuru dan kibarkan bendera-bendera dalam deru. Lelah tidur mu adalah pencapaian panji-panji kemenangan.
Seulas kisah lama terukir pasti dalam kenangan manis dan pahit dari masa ke peralihan waktu perubahan tanggung jawab dan prestasi emosi. Telah terbingkai dalam parohan masa hidup yang terlewati. Pampanglah dalam prasasti tanpa janji.
Kini adalah kini. 2010, ketika jiwa mu dan hati mu telah kau bagi berdasarkan janji. Jadikanlah tiga puluh tahun mu sebagai guru pedoman untuk kebijaksanaan dan kehormatan yang pernah kau impikan ditemani pelukan seorang perempuan yang mencintaimu dalam semua kemegahan dan kealpaan.
Banyak kelokan dan undakan perjalanan kependewasaan masa peralihan yang kau catat dalam renungan-renungan menatap bulan. Tentang bagaimana kau membisikan ke hati mu disaat kau tidak mampu memiliki apa yang kau butuhkan, tentang bagaimana kau melepaskan perasaan yang tertahan lama dalam norma. Tentang bagaimana hebatnya kau menggubah segala bentuk kekurangan dan kelemahan menjadi hiburan yang kau panggungkan. Betapa sering malu kau letakkan dibelakang punggung disaat kau maju ke depan walau senyum mu rengkah. Pikiran mu sering-sering membingkai angan-angan yang tak pernah ada dalam kenyataan dirimu, dan kau jadikan itu sebagai pengantar tidur, kemudian berharap mimpi-mimpi mu lah yang menuntaskannya. Tapi malam tetap bercahaya dan saat pagi yang sabar, kau tetap merindukan malam-malam sebelumnya.
Buang, buang, buanglah semuanya! Hapus dan lemparkan ke dalam jurang ketidaksadaran. Buraikan tumpah dalam setiap sisi yang kosong lalu bungkus menjadi masa silam. Kuburkan saja!
Masa pelepasan keterikatan dan kebebasan menjelang dalam genggaman mu saat itu, 1998.
Begitu indah, gelak dan canda dalam darah pemuda membawa banyak bendera. Suara belia mengiangi dan suara dawai menyuluti tidur tubuh lelah sang perambah dunia. Putih, hitam, abu-abu dan merah menghiasi hati berambisi. Dunia baru yang kau warnai dengan segala potensi diri tanpa jeruji dalam sepatu biru berhias putih-putih. Penuh bunyi-bunyi. Kebebasan adalah kepemilikan angan sepenuhnya menjadi aksi tanpa ragu. Malam selau cepat menuju pagi dan siang tak pernah cukup waktu untuk menerjemahkan naluri. Selalu ada tawa dalam senang dan selalu ada henyuh dalam penyesalan walau riang adalah pedang dalam genggaman. Lalahkan ke seluruh penjuru dan kibarkan bendera-bendera dalam deru. Lelah tidur mu adalah pencapaian panji-panji kemenangan.
Seulas kisah lama terukir pasti dalam kenangan manis dan pahit dari masa ke peralihan waktu perubahan tanggung jawab dan prestasi emosi. Telah terbingkai dalam parohan masa hidup yang terlewati. Pampanglah dalam prasasti tanpa janji.
Kini adalah kini. 2010, ketika jiwa mu dan hati mu telah kau bagi berdasarkan janji. Jadikanlah tiga puluh tahun mu sebagai guru pedoman untuk kebijaksanaan dan kehormatan yang pernah kau impikan ditemani pelukan seorang perempuan yang mencintaimu dalam semua kemegahan dan kealpaan.
0 comments:
Post a Comment