Friday, December 24, 2010

Refleksi Unsur-Unsur Kebudayaan Minangkabau dalam Perempuan Bau Asap (Cerpen Karya Zelfeni Wimra)

Cerpen sebagai sebuah karya sastra dapat menyajikan khazanah-khazanah budaya yang menjadi seting cerita sekaligus mendukung plot dan pengkarakteran tokoh-tokohnya. Penggambaran latar belakang budaya dari sebuah cerpen memiliki hubungan logis dengan karakter tokoh dan penceritaan meskipun tema cerita dapat beragam, karena pembentukan plot merupakan hubungan sebab dan akibat (causal connections) antara sesuatu yang bersifat sejarah, kehidupan sosial dan personal.

Perempuan Bau Asap yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen Perempuan Subuh karangan Zelfeni Wimra (2009), merefleksikan sebuah seting yang kaya akan corak budaya lokal. Corak ini tentunya terlihat pada lokasi dan atmosfir yang secara struktur membangun cerita serta menjadi kunci dalam pengusungan tema. Salah satu temanya adalah tentang kerinduan tokoh Aku (first person point of view) terhadap Ibu (Ati) dan cita rasa kampungnya. Dalam penceritaan Kerinduan ini sebagai sebuah konfilik internal tokoh yang berhubungan dengan masa-masa indah ketika berada di kampung bersama sang ibu serta peran masing-masing individu dalam struktur sosial yang merefleksikan corak budaya.

Kajian terhadap seting cerita yang menggambarkan corak kebudayaan merupakan hal pokok yang akan dikaji terhadap cerpen Perempuan Bau Asap dengan menerapkan pendekatan Kajian Budaya (Cultural Studies) secara antropologi.

II

Kritik karya satra dalam perspektif Cultural Studies dapat dipakai beberapa pendekatan seperti: Marxisme, historisisme, feminisme, kajian gender, antropologi, kajian ras, teori film sociology, urban studies, budaya pop dan sebagainya. Kajian ini penekanannya adalah tentang masyarakat dan kekuatan budaya yang diciptakan masyarakat atau sebagai sebab pendivisian dan alienasi (Geurin, 1999:240). Perempuan Bau Asap akan dikupas dengan pendekatan antropologis dengan mengaplikasikan teori unsur-unsur kebudayaan.

Unsur-unsur kebudayaan secara universal dikemukakan oleh C. Kluckhohn menjadi tujuh bagian yaitu: bahasa, system pengetahuan, organisasi sosial, system peralatan kehidupan dan teknologi, system mata pencarian hidup, system religi dan kesenian. Koentjaraningrat (2005:61) selanjutnya menjelaskan bahwa tiap unsur kebudayaan universal tentu juga terdapat dalam ketiga wujud kebudayaan (system budaya, system sosial, dan unsure-unsur kebudayaan fisik). Dalam pendiskusian, data yang merupakan bagian-bagian seting yang mengandung unsur-unsur kebudayaan akan ditampilkan berdasarkan uraian teori unsur-unsur kebudayaan secara antropologis.

III

Secara umum dari pemaparan cerpen peristiwa-peristiwa terjadi dibeberapa tempat di daerah Sumatera Barat. Sebagai sebuah konteks budaya penulis kemudian menyatakan bahwa setting dari cerpen ini terjadi di beberapa daerah Minangkabau.

Besok, aku akan tinggalkan Padang, berangkat ke Jakarta. Kota yang bak perangkap ikan itu, tanpa sepengatahuanmu telah merayuku dating … (40)

Biasanya, bila letih bermain, teman-temanku akan menyuruhku menyanyikan lagu Kampuang nan Jauah di Mato, atau lagu Lintuah yang bercerita tentang suratan pahit bujang-gadis kampung yang terkurung di keterpencilan; menahan-nahan beribu keinginan yang tak sampai. (35)

Kau akan mengajariku membuat samba lado ijau: cabai muda direbus… (36)

Pada subuh yang lain. Waktu itu, gelap yang belum usai. Kuraba tonggak tua rumah gadang kita yang … (36)

Kutipan pertama, secara jelas menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di Padang, ibukota provinsi Sumatera Barat. Sementara kutipan selanjutnya mendukung bahwa seting terjadi dalam lingkup budaya Minangkabau seperti lagu Kampuang nan Jauh di Mato dan lagu Lintuah yang dinyanyikan oleh karakter utama. Dua lagu ini merupakan lagu daerah yang berasal dari Sumatera Barat berbahasa Minang. Kecendrungan lagu-lagu ini memang dinyanyikan ketika berkumpul atau pada situasi bersama, walau tidak semuanya. Seting Minangkabau akan bertambah jelas dengan munculnya kata samba lado, jenis makanan yang khas dari Minangkabau. Seting ini semakin jelas dengan penjelasan situasi dan tempat pada kutipan selanjutnya. Tunggak tua rumah gadang merupakan, bagian dari Rumah Gadang yang merupakan rumah adat daerah Minangkabau.

Penentuan lokasi geografis diatas selanjutnya menjadi dasar dalam penjelasan wilayah kebudayaan yang secara terperinci dipaparkan unsur-unsur yang tergambar dalam cerpen tersebut.

Unsur Bahasa

Wilayah kebudayaan Minangkabau memiliki bahasanya sendiri yang disebut dengan bahasa Minang. Bahasa Minang merupakan bahasa ibu dari masyarakat Minangkabau dengan varian yang kurang lebih terdiri dari duapuluhan dialek. Posisi bahasa Minang lebih sebagai bahasa vernacular dimana Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang standard an formal.

Unsur bahasa yang diterangkan oleh Koendjaraningrat diterangkan menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam kebudayaan Minangkabau lebih dominan bahasa lisan daripada bahasa tulis, disamping bahasa Minang sendiri tidak memiliki aksara khusus. Kebahasaan yang muncul dalam Perempuan Bau Asap meliputi bahasa lisan dan bahasa tulis tentunya, seperti yang terlihat berikut ini

Pada subuh yang lain. Waktu itu, gelap yang belum usail Kuraba tonggak tua rumah gadang kita yang berbulu digaruk kucing. Disitu ku tulis namamu, nama bapak dan nama ketiga kakak perempuanku dengan spidol bertinta merah…

Setting yang ditampilkan tidak menjelaskan jenis tulisan apa yang dipakai oleh tokoh Aku. Aku yang juga dikatakan sebagai tamatan Sekolah Menengah Ekonomi dan juga menempuh pendidikan pada perguruan tinggi, maka dapat dikatakan bahwa tulisan itu beraksara alphabet Indonesia. Meskipun di Minangkabau dapat juga dijumpai tulisan jawi, akan tetapi seting tidak begitu mendukung akan penggunaan tulisan jawi bagi tokoh Aku. Namun, masyarakat ini mengenal tulisan Arab seperti yang tergambar dalam kutipan berikut

Setelah itu mandi dan bersiap pergi mengaji ke surau, mematangkan irama kajiku. (36)

Sistem Pengetahuan

Sistem pengetahuan yang dapat diidentifikasi secara langsung tidaklah begitu jelas dipaparkan dalam cerpen ini. Dari penceritaan tentang kehidupan masyarakat bertani, secara implicit tentulah masyarakat tersebut memiliki system pengetahuan tentang sekitar alam, flora, dan tentang ruang dan waktu. Namun wujud kebudayaan yang konkrit adalah adanya surau sebagai tempat belajar serta sekolah atau kampus.

Sistem pengetahuan tentang zat-zat bahan mentah dan flora yang secara jelas dapat dikategorikan sebagai ciri khas daerah ada beberapa bidang seperti kutipan berikut.

…Sebagian cabai sudah mulai masak. Tapi kau menyuruhku memetik yang hijau saja. Kau akan mangajariku membuat samba lado ijau: cabai muda direbus dengan bawang kemudian digiling dengan biji petai, bunkil dammar, dibubuhi garan dan asam secukupnya.(36)

“Kita goring sama peria atau asam pedas saja?” tawarmu sambil menjelaskan bahwa goreng peria membuat darah kita pahit dan nyamuk-nyamuk tidak berani menggigit. Sedangkan asam pedas tidak memakai santan, baik untuk jantung kita. Apalagi cabainya dicampur asam kandis dan gelugur, bisa menyembuhkan kutil. (38)

Setting sesungguhnya memiliki pengaruh kuat terhadap plot dalam menentukan urutan dan materi kejadian dalam cerita. Hubungan memetik cabai dengan tanam tumpang sari dan cabai hijau serta pembuatan samba lado ijau tidak akan berlaku apabila setingnya di kota dan bukan daerah Minangkabau. Begitu juga untuk peria dan asam pedas sebagai materi dari sistem pengetahuan yang terrefleksi dari cerpen ini. Hal lain yang bisa disimpulkan adalah terbentuknya sistem turun-temurun dan wajah kearifan local yang terjaga.

Organisasi sosial

Seting cerpen yang terdiri dari tiga wilayah yaitu kampong, kota dan kota provinsi. Kota provinsi disini adalah Kota Padang tempat tokoh aku berkuliah. Sedangkan kota dan kampung ini berada di Kabupaten 50 Kota yang diasumsikan dari latar belakang penulis. Memang asumsi ini lemah karena tidak adanya kajian yang mendukung dalam hal ini. Tetapi asumsi ini perlu untuk mendeskripsikan organisasi social yang terrefleksi dalam cerpen tersebut.

Menurut Maryeti dkk (2009), dalam bukunya yang berjudul Budaya Masyarakat Minangkabau di Kabupaten Lima Puluh Kota, menyebutkan bahwa organisasi social masyarakat tersebut dibagi menjadi prinsip keturunan, kelompok kekerabatan, sopan santun kekerabatan, dan istilah kekerabatan. Hal yang dapat diinterpretasikan dari seting yang termuat di cerpen ini hanya sopan santun tokoh Aku terhadap ibunya dan Bapaknya, dan bagaimana ibunya menghargai mantan suaminya.

Katamu, sekalipun petir menyambar tubuhku hingga layu, dia tetap Bapakku. Makanya, ketika sakit Bapak tak terobati, kau tetap menemaniku mengantar jenazah Bapak ke rumah terakhirnya. Kitapun sama menengadahkan tangan, mengirimi Bapak sepatah dua patah doa…(39)

Keunikan Matrilinear dan peran bako tidak sepenuhnya dapat dilihat dalam cerpen ini. Namun kutipan di atas sekilas menggambarkan bagaimana pentingnya penghargaan terhadap Bapak sebagai bako yang mana secara adat sangat penting akan peran bako, contohnya dalam perkawinan secara adat.

System peralatan dan teknologi

Jenis-jenis peralatan yang muncul ada berupa perlatan makan dan produksi seperti batu gilingan, piring, sendok, tungku batu, pagu, tampian, kuali, cangkir, dan pisau penetek mayang nira. Beberapa peralatan bersifat universal dan ada yang berwujud kekhasan seperti tungku batu bersusun, pagu dan pisau penetek mayang nira. Secara terperinci tidak begitu dijelaskan bentuk dan fungsinya, akan tetapi benda-benda tersebut mewakili keunikan dan kekhasan yang ada di Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai seting cerita. Sistem transportasi yang cukup khas yang dimunculkan cerpen ini adalah bendi, kendaraan yang ditarik oleh kuda.

Sistem mata pencaharian hidup

Seting yang sebahagian besar terjadi di wilayah kampung yang bernuasa pertanian menjelaskan bahwa sistem bertani, berladang dan berternak merupakan sistem mata pencaharian terefleksi. Suasana yang banyak digambarkan adalah: barmain di pagar kebun; memetik cabai keriting; menjemput kambing dan mengandangkannya; sawah berjenjang; membawa sejinjing belut dan anak gurami yang kukail di batang air; musim bertanam yang riang; kulit manis yang sudah harus diangkat dari jemuran; penetek mayang nira; dukun beranak; raungan tentang cengkeh yang terjual murah; harga racun padi menenjak. Maryeti dkk. Juga menyatakan bahwa sistem mata pencaharian masyarakat 50 Kota adalah pengolahan sawah, beternak ikan dengan alat-alat produksi seperti pangkua, sikek, sabit, bajak, kibang, tuduang, lambuak, lasuang dan alu. Tetapi dalam cerpen ini lebih menonjol berkebun dan bersawah. Dari jenis kegiatan produksi dan sistem pencaharian seperti cengkeh, nira, dan kulit manis, dapat disimpulkan bahwa setingnya adalah kampung di daerah perbukitan.

System Religi dan Kesenian

Minangkabau yang terkenal dengan semboyan Adat bersandi sarak, sarak bersandi kitabullah adalah cerminan bahwa agama masyarakat minangkabau adalah Islam. Ada juga ungkapan yang memperkuat pernyataan di atas yaitu Syara’ mangato, adaik mamakai. Perempuan Bau Asap memunculkan kata surau sebagai salah satu sarana ibadah orang Islam dan mengaji sebagai sebuah bentuk ibadah. Dalam masyarakat juga berkembang tradisi seperti kutipan berikut:

Seperti keyakinan semua orang di kampung, bila kakak dihanyutkan, kelak besar dan hidup dari rantau ke rantau. Jika dikubur di dekat rumah, ia akan jadi penunggu rumah. Tidak akan pergi jauh-jauh ke rantau (36-37)

Tradisi ini tetap terjadi dan menjadi kepercayaan masyarakat 50 Kota dan mungkin juga di beberapa daerah di Minangkabau. Budaya ini berkaitan dengan persalinan yang ditangani oleh dukun beranak, akan tetapi karena saat ini masyarakat sudah banyak yang memanfaatkan jasa bidan dan dokter, tradisi ini juga mendapatkan pengaruh eksistensinya.

Untuk bidang kesenian tidak begitu banyak termunculkan jika kita lihat ragam khas kesenian yang berkembang di Kabupaten 50 Kota seperti: Zikir rebana, Salawat Dulang, Basijobang, randai, Basirompak, Saluang dendang, talempong pacik, dan lain-lain. Cerpen hanya sekilas menyiratkan bahwa ada pupuik serunai dan lagu-lagu daerah Sumatera Barat, tetapi tidak menghadirkannya secara langsung dalam seting.

IV

Cerpen Perempuan Bau Asap merefleksikan sebahagian besar unsur-unsur kebudayaan yang menjadi seting cerita. Minangkabau merupakan kontek budaya yang tergambar dengan lokasi Kabupaten Lima Puluh Kota. Unsur kebudayaan yang terlihat pada wujudnya cendrung merefleksikan kehidupan masyarakat petani Minangkabau dengan menampilkan local genius. Pemahaman cerpen ini akan lebih baik bagi pembaca yang memiliki pengetahuan tentang Keminangkabauan yang menjadikan Corak Budaya Minangkabau sebagai seting.

Daftar Pustaka

Maryetti dkk, 2009, Budaya Masyarakat Minangkabau di Kabupaten Lima Puluh Kota. BPSNT Padang Press.

Koentjaraningrat, 2005, Pengantar Antropologi, Edisi ke-3, Rineka Cipta. Jakarta

Luxemburg dkk, 1989, Pengantar Ilmu Sastra, Gramedia, Jakarta

Kuper & Kuper, 2000, Ensiklopedia Ilmu-Ilmu Sosial, Rajawali Press, Jakarta

Geurin, L. Wilfred et al, 1999, A Handbook of Critical Approaches to Literature. Oxford University Press. New York

Wimra, Zelfeni. 2009. Pengantin Subuh, Lingkar Pena, Jakarta

(picture by Irfan Ali)