
(perbandingan proses morfologik bahasa Indonesia dan bahasa Minangkabau)
Pendahuluan
Morfologi adalah bidang yang mengkaji tentang bentuk yang awalnya berkembang pada bidang biologi. Secara kebahasaan (mulai pertengahan abad 19) lebih dikenal sebagai ilmu yang mengkaji tentang struktur internal kata. Kajian ini difokuskan pada konsep struktur kata dan formasi atau susunan kata. Pengertian morfologi itu sendiri adalah sebuah ilmu yang mengkaji tentang bagaimana kata itu terstruktur dan bagaimana dia tersusun dari unsur yang terkecil. Unsur terkecil yang dimaksud dalam kajian ini adalah unsur yang telah memiliki makna atau disebut dengan morfem. Sesuai dengan apa yang dikatakan Nida bahwa morfologi merupakan sebuah bidang yang mengkaji morfem dan susunannya dalam membentuk kata-kata.. Morfem juga disebut sebagai unit terkecil dari makna . Yule (1985:60) juga menyebutnya sebagai elemen terkecil dari kesatuan bentuk. Wray et.al (1998:122) menyebut morfem sebagai unit terkecil dari makna. Sementara Parker (1986:66) berpendapat bahwa morfem berupa unit terkecil yang memiliki beberapa makna konstan yang berhubungan dengan beberapa bentuk yang konstan pula. Sebagai kajian yang sifatnya deskriptif, maka diperlukan sebuah pemahaman tentang bagaimana proses terbentuknya kata-kata tersebut dan apasaja yang menjadi acuan dalam penguraian formasi atau struktur kata secara prinsip-prinsip morfologi itu sendiri.
Makalah ini akan mencoba menguraikan proses reduplikasi atau pengulangan sebagai sebuah proses morfologik yang terlihat pada novel “Kemarau” yang dikarang oleh A.A. Navis. Hal yang menarik dari novel tersebut sebagai fenomena yang perlu dianalisis adalah keunikan pengarang dalam penggunaan bahasa Indonesia. A.A. Navis menulis terlebih dahulu novel atau c erpennya dalam bahasa Minang dan kemudian baru ditulis ulang dalam bahasa Indonesia sehingga terlihat bahwa penulis berfikir dalam bahasa Minang dan menuliskan dalam bahasa Indonesia (lihat Eneste 1983:51).
Reduplikasi
Reduplikasi atau pengulangan merupakan sebuah proses morfologik dimana proses morfologik dapat dikatakan sebagai proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Akan tetapi reduplikasi dapat juga terjadi pada tataran fonemis, morfemis dan sintaksis. Konsep dasar dari reduplikasi ini adalah terdapatnya pengulangan (repetisi) sehingga menghasilkan kata turunan atau kata kompleks. Pengulangan ini dapat berupa pengulangan root atau stem. Secara umum reduplikasi dapat dibagi menjadi reduplikasi total dan reduplikasi partial (Booij, 2007;35, Ramlan, 1979:38 dan Samsuri 1988: 14). Menurut Rmalam (1983:60) pengulangan dapat dibagi menjadi empat golongan: pengulangan seluruh, pengulangan sebagian, pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, dan pengulangan dengan perubahan fonem. Akan tetapi pada dasarnya reduplikasi merupakan sebuah fenomena fonologis yang mengidikasikan konsep sebagai distribusi, penanda jamak, pengulangan, kegiatan, peningkatan ukuran, penambahan intensitas, dan keberlanjutan.
Diskusi
Dalam novel “kemarau”, banyak ditemukan proses reduplikasi total seperti kata-kata di bawah ini:
(1) Lepau-lepau
(2) Bintang bintang
(3) Taman-taman
(4) Orang-orang
(5) Bendar-bendar
Dari contoh reduplikasi total diatas memiliki fungsi sebagai pembentuk jamak. Sementara bentuk reduplikasi parsial terdapat pada contoh berikut
(6) Memilin-milin
(7) Terus-menerus
(8) Mendoa-doa
(9) Sebab-musabab
(10) Jari-jemarinya
Templet Konsonan Vokal dan Reduplikasi
Model ini dikembangkan oleh McCarty (1981) dan Marantz (1982) telah mengembangkannya dengan aplikasi pada Bahasa Arab. Dalam model ini dapat disimpulkan bahwa reduplikasi pada templet konsonan vocal merupakan peristiwa khusus dari sebuah proses alami afiksasi morfologis, dimana imbuhan-imbuhan secara fonologis dijelaskan, dan mendapatkan pengulangan penuh dari ekspresi fonologis dengan mengkopi segemen yang berdekatan.
tersia-sia tasio-sio
Ungkapan tersia-sia sebenarnya tidak lazim dalam bahasa Indonesia, akan tetapi ini merupakan bentuk reduplikasi yang bersal dari bahasa Minang, tasio-sio. Ada juga bentuk lain yang dalam bahasa Indonesia tidak terjadi proses reduplikasi akan tetapi dalam bahasa Minang berterima dan sering digunakan
Rupa-rupanya rupo-ruponyo
Membuang-buang mambuang-buang
Bukan-bukan indak-indak (yang indak-indak se karajonyo)
Mendoa-doa mandoa-doa (alah tu mandoa-doa se karajo)
Tenang-tenang tanang-tanang (duduak lah tanang-tanang)
Memilin-milin mamilin-milin
Bentuk yang biasanya muncul dalam bahasa Indonesia adalah bersusah-payah, akan tetapi dalam bahasa minang dapat berterima berpayah-payah
Contoh:
Mana orang mau berpayah-payah menolong sawah orang lain. (26)
Dia sudah bersusah-payah menghidupi keluarga (Bahasa Indonesia)
Dari contoh di atas jelas sekali bahwa pengarang betul-betul berfikir dalam bahasa Minang dalam menulis novelnya sehingga bentuk reduplikasi yang tidak terdapat (tidak lazim) dalam bahasa Indonesia dapat muncul. Contoh lainnya adalah:
Melenting jauh terguling-guling (50)
Dicarinya sebab-musabab tindakan Sutan Caniago yang tak diduganya…. (10)
Sedang Acin memandang juga padanya tenang-tenang. (55)
Seburuk-buruk untung, jadi buruh kasar, menarik beca (17)
Dihapusnya air matanya itu kering-kering (68)
Api-api (korek api) 77
Rajo Mantari berkata itu, kalau-kalau ia pula yang terpaksa … (83)
Semalam-malaman Sutan Duano gelisah (86)
Kemudian dapat dijelaskan bahwa proses replikasi itu dapat digambarkan sebagai berikut
| A.A. Navis | Bahasa Indonesia | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
payah + payah cvcvc + cvcvc
payah - payah cvcvc + cvcvc |
payah + payah cvcvc + cvcvc
susah - payah cvcvc + cvcvc
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Reduplikasi penuh | Perubahan fonem | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Berafiksasi | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| bapayah-payah | bersusah-payah | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tenang + adverbial deep structure tenang + (adverbial)
![]()
![]()
tenang-tenang surface structure dengan tenang
AA. Navis Bahasa Indonesia
Maka dapat disimpulkan bahwa:
Deep structure = Minang Grammar
Surface struktur = Bahasa Indonesia dengan sintaktis bahasa Minang
Penutup
Dalam novel Kemarau karya AA. Navis, terdapat peristiwa reduplikasi penuh dan reduplikasi parsial. Reduplikasi ini merupakan proses morfemik yang berfungsi sebagai penanda jamak, perulangan dan adverbial. Dalam novel tergambar bahwa bentuk-bentuk reduplikasi merupakan turunan dari morfosintak bahasa Minangkabau yang sesungguhnya tidak lazim atau tidak berterima dalam bahasa Indonesia. Juga terdapat proses reduplikasi yang berbeda untuk satu bentuk fungsi yang sama dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Minangkabau. Proses-proses tersebut terjadi karena AA. Navis memakai struktur dalam (deep structure) bahasa Minang dengan menggunakan bentuk luar (surface structure) bahasa Indonesia.
Daftar Bacaan
Parker, Frank. 1986. Linguistics for Non-Linguistics. Little Brown and Company. London
Ramlan. 1979. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. CV. Karyono. Yogyakarta
Wray, Alison.et.al. 1998. Projects in Linguistics. Oxford University Press. New York.
Yule, George. 1985. The Study of Language. Cambridge University Press. New York.
Eneste, Pamusuk. 1983. Proses Kreatif. Gramedia. Jakarta
Navis. A.A. 1957. Kemarau. Bukitinggi
Booij, Geert. 2007. The Grammar of Words. Oxford University Press. New York.
Katamba. Francis. …
0 comments:
Post a Comment